Tawa, Maaf, dan Aku Lagi
Tawa, Maaf, dan Aku Lagi
Aku datang dengan langkah riang,
membawa tawa yang kadang terlalu keras,
membiarkan udara kelas bergetar,
menyebarkan gaduh yang entah mengapa terasa hangat.
Aku sering ceroboh,
menjatuhkan pensil, menumpahkan air,
membuat orang menoleh dan menghela napas,
sementara aku tersenyum, mencoba menahan rasa bersalah yang kecil.
Maaf selalu jadi bunga di bibirku,
mekar setiap kali aku keliru.
Aku tahu, aku sering mengulang kesalahan yang sama,
tapi hatiku selalu ingin belajar memperbaikinya.
Di antara tawa dan kehebohan kecilku,
ada niat tulus yang tumbuh perlahan,
bahwa dari riuhku, ada kasih yang ingin kudengar,
dan dari maafku, ada harapan untuk menjadi lebih baik lagi.
Maka biarlah aku tetap menjadi aku
yang gaduh tapi lembut hati,
yang salah tapi mau mengakui,
yang jatuh, tertawa, meminta maaf,
dan mencoba lagi.
Komentar
Posting Komentar