Taman yang Terlupakan
Taman yang Terlupakan
Di taman yang terlupakan, daun-daun menunduk,
seperti perahu kecil yang hanyut di sungai tanpa arus.
Bunga-bunga menatap tanah,
menunggu hujan yang tak kunjung menetes dari langit hati.
Ranting-ranting berbisik pada angin malam,
“Burung-burung pergi, tapi cahaya tetap di sini.”
Debu menutupi jalan setapak,
seolah menahan langkah yang dulu penuh tawa dan jejak.
Batu-batu di tepi kolam diam membatu,
menjadi saksi matahari yang jatuh perlahan.
Setiap tetes embun yang jatuh ke tanah,
seperti doa kecil yang tak pernah putus berharap.
Meski taman ini sunyi dan halaman sepi,
matahari masih meneteskan cahaya lembut di daun yang layu.
Angin menyapu, hujan menetes, dan benih tetap menunggu,
karena keindahan yang tulus tak pernah benar-benar hilang.
Komentar
Posting Komentar