Taman yang Sepi
Taman yang Sepi
Sebuah taman tua,
dulu riuh oleh kaki yang menjejak,
suara tawa dan langkah seperti sungai yang deras,
namun kini daun-daunnya bergelayut hampa,
menunggu burung yang tak kunjung kembali.
Para penanam setia
menyiram tanah dengan air pagi dan hujan petang,
menabur pupuk harapan,
menghapus debu dari jalan setapak,
semua dilakukan dengan tangan yang tekun dan sabar.
Burung-burung yang dulu hinggap di ranting,
meninggalkan cabang-cabang,
terbang mencari pohon lain yang menurut mereka lebih indah.
Bunga-bunga tetap mekar,
namun tak ada mata yang menatap,
tak ada kaki yang menjejak di tanah yang diolah dengan cinta.
Mereka membangun pagar dari semangat,
menanam benih baru,
mengusap dedaunan yang layu,
namun taman tetap hening,
seperti menunggu mukjizat dari angin yang enggan berbalik.
Meski begitu, tangan-tangan itu tetap menanam.
Tetap menyiram.
Tetap berdiri di tengah taman,
karena tahu meski dunia pergi menjauh,
keindahan yang tulus tak akan pernah hilang.
Komentar
Posting Komentar