Sisa Suara
Sisa Suara
Dulu,
kita tertawa di bawah atap yang sama,
berebut bantal, berebut perhatian,
tapi tak pernah berebut kasih.
Kini rumah itu masih ada,
namun suaranya berbeda.
Ada jeda panjang di antara panggilan,
ada dingin di balik setiap sapaan.
Kita tumbuh,
dan entah sejak kapan,
prinsip membuat kita seperti dua musim
yang tak pernah bertemu di langit yang sama.
Aku ingin bicara,
tapi gengsi mengikat lidahku.
Aku tahu, mungkin kau pun begitu
menyimpan rindu yang tak sempat jadi kata.
Kita sama-sama benar,
dan karena itulah kita sama-sama kehilangan.
Bukan karena benci,
tapi karena terlalu keras menjaga hati.
Malam ini aku menulis namamu
dalam doa yang paling diam.
Bukan untuk kembali ke masa lalu,
tapi agar kita tak lagi menjadi asing
dalam kenangan yang pernah indah.
Komentar
Posting Komentar