Senja yang Menunggu
Senja yang Menunggu
Daun-daun menunduk, menatap tanah yang kering,
seolah menahan rindu pada kaki yang dulu menjejak.
Perahu kecil di sungai perlahan hanyut,
membawa sisa cahaya yang tak lagi disentuh.
Ranting-ranting berbisik pada angin malam,
menyimpan cerita burung yang memilih terbang jauh.
Debu menutupi jalan setapak,
membungkus setiap langkah yang hilang dalam senyap.
Batu-batu di tepi kolam tetap diam,
menjadi saksi matahari yang jatuh perlahan di ufuk.
Embun menetes di daun yang layu,
seperti doa yang tersimpan tanpa suara,
menunggu pagi yang mungkin tak kunjung tiba.
Benih-benih tetap tertanam,
meski halaman sepi dan angin menolak membawa kabar.
Taman ini tetap hidup,
menyimpan keindahan yang tak pernah padam,
meski tak ada mata yang menatap dan kaki yang menjejak.
Komentar
Posting Komentar