Sampai Tenang

 

Sampai Tenang

Aku tak lagi menunggu pintu itu terbuka.
Mungkin memang harus begini:
kau dengan arahmu,
aku dengan jalanku.

Ada sedih yang sempat berteriak,
tapi kini ia duduk tenang di dada,
menjadi bagian dari doa yang tak bersuara.

Aku sudah berhenti menanyakan
kenapa segalanya berubah
karena kadang,
yang kita perjuangkan sepenuh hati
tetap memilih pergi dengan caranya sendiri.

Namun sungguh,
tak ada benci di sini.
Yang tertinggal hanyalah rindu yang lembut,
seperti cahaya senja yang tahu kapan harus reda.

Jika nanti takdir mempertemukan lagi,
aku ingin kita bisa tersenyum,
tanpa menahan apa pun,
tanpa mengingat siapa yang lebih dulu menjauh.

Sampai hari itu datang,
biarlah aku menjaga damai ini,
menyebut namamu perlahan dalam doa,
bukan untuk memaksa kembali,
tapi agar hatiku dan hatimu
akhirnya sampai… tenang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Pagi Melody

Sisa Rindu