Saat Senyum Mereka Menyala Lagi
Saat Senyum Mereka Menyala Lagi
Pagi datang, seperti biasa,
dengan langkah kecil dan tawa yang berlarian di lorong sekolah.
Aku masih membawa sisa lelah kemarin,
tapi sesuatu di dalam dada mulai bergerak pelan
hangat, seperti mentari yang menepuk bahu dengan lembut.
Ada suara riang memanggil namaku,
ada kertas bergambar yang terlipat rapi di meja,
ada bunga kertas kecil dengan tulisan miring,
“Untuk Ibu, supaya senang lagi.”
Aku terdiam, lalu tersenyum.
Tiba-tiba lelahku luruh satu per satu,
seperti embun yang menyerah pada cahaya pagi.
Aku sadar, mereka mungkin belum paham arti perjuangan,
tapi mereka tahu cara menyembuhkan dengan ketulusan.
Tawa mereka adalah nyala kecil yang tak pernah padam,
dan di sanalah semangatku selalu menemukan rumahnya.
Hari ini, aku kembali berdiri tegak di depan kelas,
bukan karena kuat,
tapi karena cinta yang mereka titipkan diam-diam
di antara kertas kusut, senyum kecil, dan panggilan yang riuh.
Mereka mungkin tak tahu,
setiap kali mereka tersenyum,
ada api kecil yang menyala lagi di hatiku
api yang bernama cinta seorang guru
Komentar
Posting Komentar