Rumah Kayu Terakhir
Rumah
Kayu Terakhir
Di antara
bangunan menjulang kaca,
Berdiri rumah kayu tua sendiri.
Atapnya bocor, jendelanya miring,
Di dalamnya hangat sekali.
Bau kayu
bercampur nostalgia,
Menyimpan tawa dan air mata.
Tergantung foto lama,
Tentang keluarga dan sawah yang hilang.
Orang
kota berjalan tergesa,
Tak tahu rumah itu berdoa.
Setiap malam, ia berbisik lirih,
Memohon agar desa tak punah.
Meski
waktu terus memudar,
Rumah kayu itu tetap berdiri.
Menjadi saksi, menjadi pelindung,
Dari cinta yang tak berubah bentuk.
Komentar
Posting Komentar