Pasar Minggu yang Berpindah

 

Pasar Minggu yang Berpindah

Dulu pasar di tanah lapang,
Ramai oleh tawa dan aroma masakan.
Kini diganti kios berlampu terang,
Harga tertulis tanpa sapaan.

Penjual sayur menatap sepi,
Gerobaknya tersingkir perlahan.
Tak ada lagi tawar-menawar,
Hanya layar dan transaksi diam.

Bayangan masa lalu tersisa,
Dalam setiap bau cabai dan jahe.
Pasar lama masih hidup di dada,
Sebagai rumah bagi jiwa sederhana.

Mungkin kota akan terus tumbuh,
Tapi pasar itu takkan punah.
Sebab tempat bertemu dan tertawa,
Tak butuh bangunan, hanya rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Pagi Melody

Sisa Rindu