Lelah yang Tak Terucap

 

Lelah yang Tak Terucap


Aku lelah,
bukan karena jarak,
tapi karena langkah yang terus memaksa hati untuk kuat
padahal sudah retak di dalam diam.

Langit sore tadi abu-abu,
seperti pikiranku yang tak tahu arah.
Aku menatapnya lama,
mencari tanda,
tapi hanya angin yang menjawab dengan dingin.

Ada waktu di mana doa pun terasa berat,
dan air mata jadi bahasa yang paling jujur.
Aku tak ingin menyerah,
tapi entah kepada siapa lagi aku bisa berpaut
selain pada cahaya kecil
yang masih berpendar di dada,
meski hampir padam.

Kadang aku ingin berhenti,
membiarkan dunia lewat begitu saja.
Namun ada sesuatu di ujung lelahku
yang berbisik pelan:
“Bertahanlah,
tak selamanya hujan membawa dingin—
kadang ia datang
untuk menumbuhkan dirimu yang baru.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Pagi Melody

Sisa Rindu