Jejak yang Menyembuhkan
Jejak yang Menyembuhkan
Pulang
Hai, diriku.
Sudah sejauh ini kamu melangkah,
meski dunia tak selalu ramah,
meski bahu sering basah oleh sesuatu yang tak perlu dijelaskan.
Aku tahu, kamu lelah.
Terkadang hidup terasa seperti lorong tanpa cahaya,
dan setiap harapan hanya gema
yang kembali memantul ke dada.
Tapi lihat,
kamu masih di sini—
masih bernapas,
masih mencoba.
Itu pun sudah seindah doa yang tak pernah berhenti.
Tak apa menangis malam ini.
Tak apa berhenti sejenak dari menjadi kuat.
Bahkan bumi pun butuh waktu
untuk berputar dalam sunyi.
Suatu hari nanti,
kau akan mengerti:
lelah pun bisa jadi cara pulang—
bukan ke tempat,
tapi ke dirimu sendiri.
Tumbuh
Pagi datang tanpa tepuk tangan,
tapi aku menyapanya juga—
dengan mata yang masih basah,
dan hati yang pelan-pelan belajar percaya lagi.
Tak ada yang tiba-tiba sembuh.
Luka tak pergi karena diusir,
ia hanya luluh
ketika disapa dengan sabar.
Hari ini, aku tak ingin menjadi kuat,
aku hanya ingin jujur:
bahwa aku sedang mencoba,
meski langkahku masih gemetar.
Aku mulai melihat hal-hal kecil
yang dulu tak sempat kupeluk—
angin yang lembut,
secangkir teh hangat,
atau senyum kecil yang muncul tanpa alasan.
Mungkin beginilah caranya tumbuh:
bukan dengan berlari,
tapi dengan berdamai perlahan.
Dan jika nanti aku jatuh lagi,
tak apa.
Aku sudah tahu arah pulang,
dan kali ini,
aku akan kembali dengan hati yang lebih tenang.
Langkah Baru
Kini, aku tak lagi berlari dari sepi.
Aku menatapnya—dan ia menatap balik,
tanpa ingin saling menyakiti.
Dunia masih sama,
tapi aku tak lagi melihatnya dengan mata yang sama.
Ada tenang di balik luka,
ada makna di antara kehilangan.
Aku belajar,
bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling kuat,
tapi siapa yang paling tulus bertahan
saat tak ada yang tersisa,
selain keyakinan kecil di dada.
Langkahku mungkin lambat,
namun kali ini ringan—
karena tak lagi kubawa semua yang ingin kutinggalkan.
Aku berjalan,
menuju hari yang belum kutahu warnanya,
tapi hatiku percaya:
setiap langkah kecil pun
adalah doa yang sedang tumbuh.
Kadang yang paling menyembuhkan bukan waktu,
tapi keberanian untuk tetap melangkah—
meski pelan,
meski sendiri,
namun masih dengan hati yang hidup.
Komentar
Posting Komentar