Cahaya di Pagi Sokosari Dua



Cahaya di Pagi Sokosari Dua

Di sebuah pagi yang hangat di UPT SDN Sokosari 2, sinar matahari menembus lembut jendela kelas. Suara burung bersahut-sahutan, sementara dari kejauhan terdengar suara peluit guru piket yang menandakan waktu istirahat pagi segera berakhir.

Namun, di halaman sekolah, beberapa anak masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada yang tertawa sambil berlari, ada pula yang bersembunyi di balik tiang bendera. Bel sekolah sudah berbunyi tiga kali, tanda waktu salat Dhuha telah tiba. Tapi, anak-anak itu masih belum beranjak ke tempat wudu.

“Eh, nanti aja, wudhu-nya bareng-bareng!” kata Rafi sambil tertawa.
“Iya, musholanya kan nggak bakal lari,” sambung Sinta, masih menggoyangkan kakinya di bangku taman.

Namun, di tengah suasana riuh itu, ada satu anak kecil yang berbeda. Namanya Cici, siswi kelas 1 yang baru saja belajar membaca doa-doa pendek. Tubuhnya mungil, rambutnya dikepang dua, dan wajahnya selalu terlihat cerah setiap pagi.

Begitu bel berbunyi, Cici langsung meletakkan mainannya, menepuk rok seragamnya agar bersih, lalu berjalan cepat menuju tempat wudu.
“Brrr… airnya dingin ya,” gumamnya pelan sambil tersenyum.

Ia membasuh wajahnya dengan hati-hati, lalu menatap pantulan dirinya di air yang menetes di bak wudu. Dalam hatinya, Cici berbisik kecil,
“Ya Allah, semoga aku bisa jadi anak yang rajin ibadah, seperti yang Bu Guru bilang.”

Sementara itu, teman-temannya baru sadar ketika Bu Guru Nurul datang ke halaman.
“Anak-anak, siapa yang sudah siap salat Dhuha?” tanya Bu Guru dengan suara lembut tapi tegas.

Anak-anak saling pandang, lalu buru-buru berlari menuju tempat wudu. Ada yang terburu-buru, ada pula yang saling dorong sambil tertawa kecil.

Saat mereka sampai di mushola, Cici sudah duduk rapi di saf paling depan, tangannya menangkup di dada, berzikir pelan menunggu iqamah. Wajahnya tampak tenang, seolah menyimpan cahaya sendiri.

Bu Guru Nurul tersenyum melihatnya. “MasyaAllah, Cici selalu yang pertama, ya,” katanya lembut sambil mengusap kepala Cici.
Cici menunduk malu. “Soalnya aku pengin dekat sama Allah, Bu,” jawabnya polos.

Sejak hari itu, anak-anak lain mulai memperhatikan kebiasaan Cici. Setiap pagi, mereka melihat Cici sudah siap di mushola sebelum bel berbunyi. Lama-lama, rasa malu tumbuh di hati mereka.

“Besok kita wudhu bareng Cici, yuk,” kata Rafi pada Sinta.
“Iya, biar nggak telat terus,” sahut Sinta sambil tersenyum.

Hari demi hari, mushola SDN Sokosari 2 semakin ramai. Suara tawa anak-anak berpadu dengan lantunan doa dan salawat. Sekolah terasa lebih damai, lebih hangat, seperti diselimuti cahaya kebaikan yang lembut setiap pagi.

Dan setiap kali Bu Guru melihat saf pertama di mushola, selalu ada satu sosok kecil yang duduk paling depan, menunduk khusyuk . Cici, si Cahaya Pagi Sokosari Dua.


Pesan Moral : 

  • Anak yang rajin beribadah akan menjadi teladan bagi teman-temannya.

  • Disiplin waktu adalah tanda anak yang bertanggung jawab.

  • Ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada bermain.

  • Kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menginspirasi banyak orang.

  • Ketika kita rajin salat dan berbuat baik, hati kita akan dipenuhi cahaya dan kedamaian.



Soko, 4 November 2025





 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Pagi Melody

Sisa Rindu