Bekal yang Menunggu
Bekal yang Menunggu
Pagi datang dengan langkah terburu,
udara masih basah oleh sisa mimpi,
dan dapur beraroma cinta sederhana
nasi hangat, telur yang digoreng pelan,
serta doa yang diam-diam diselipkan di setiap bungkus kecil.
Di atas meja,
sebuah kotak bekal menunggu.
Diam, tapi penuh arti,
seperti hati yang belum sempat berpamitan.
Langkah kecil sudah jauh di jalan,
suara riuh sekolah telah memanggil,
sementara di rumah,
bekal itu menatap sepi,
menyimpan kehangatan yang seharusnya menemani hari.
Waktu berjalan pelan di dapur yang hening,
sinar matahari menembus jendela,
menyentuh tutup kotak itu seolah berkata,
“Kasihmu tak hilang, hanya tertunda.”
Sore nanti, ketika langkah itu pulang,
akan ada senyum kecil di pintu,
dan bekal yang tak terbuka itu
tetap harum
bukan karena masakannya,
melainkan karena cinta yang menunggu dengan sabar.
Komentar
Posting Komentar