Antri di Kantin Sekolah
Antri di Kantin Sekolah
Bel istirahat berbunyi nyaring. Trrrriiiinnnggg!
Suara kursi bergeser dan langkah kaki berlari terdengar ke segala arah. Suasana kelas mendadak riuh seperti pasar kecil.
“Ayo cepet, sebelum habis!” seru Meme, sambil menarik tangan Wawa dan Dede.
Wawa tertawa kecil. “Tenang aja, Me. Kan Bu Ifa selalu bikin banyak roti isi keju.”
“Kalau banyak yang antre, nanti aku keburu haus,” keluh Meme sambil mengipas wajah dengan buku tulisnya.
Dede menimpali, “Makanya jangan lari-lari terus, nanti hausnya tambah parah.”
Mereka bertiga akhirnya tiba di depan kantin sekolah. Bau gorengan, roti, dan es teh manis bercampur jadi satu. Antrean sudah mengular.
“Wah, panjang banget antreannya,” gumam Wawa.
Meme menatap ke depan dengan wajah lesu. “Aku lapar banget, Wa. Bisa nggak ya kita nyelip dikit?”
Dede menoleh cepat. “Jangan, Me. Kita harus antre. Kasihan teman-teman lain.”
“Iya, iya… tapi perutku udah konser nih,” kata Meme sambil memegangi perut dan membuat wajah lucu.
Wawa tertawa, “Sabar ya, sabar itu manis hasilnya.”
Sementara itu, di depan barisan, dua anak laki-laki—Roni dan Dimas—tiba-tiba menyerobot antrean. Mereka langsung berdiri di depan Wawa dan teman-temannya tanpa rasa bersalah.
“Hei! Itu kan nyerobot!” seru Meme spontan.
Roni menoleh dengan santai. “Lah, kan cuma sebentar. Kami mau beli minum aja.”
“Tetap aja, harus antre,” kata Dede dengan nada tenang tapi tegas.
Dimas malah tertawa. “Ah, kalian terlalu aturan banget, sih.”
Meme sudah ingin marah, tapi Wawa menahan tangannya. “Sudah, Me. Nanti aja kita bilang ke Bu Ifa. Nggak usah ribut di sini.”
Meme menghela napas kesal. “Tapi nggak adil, Wa…”
Wawa tersenyum sabar. “Aku tahu. Tapi kalau kita ribut, suasana makin nggak enak.”
Giliran Roni dan Dimas tiba di depan meja kantin.
Bu Ifa menyambut mereka dengan senyum ramah, tapi matanya tajam memperhatikan.
“Roni, Dimas, tadi kalian antre dari belakang, kan?”
Roni menelan ludah. “E… iya, Bu, tapi cuma nyelip sebentar.”
“Sebentar pun tetap tidak boleh. Di kantin ini semua harus tertib. Tolong kembali ke belakang, ya.”
Anak-anak lain langsung menatap ke arah mereka. Roni dan Dimas menunduk malu dan berjalan mundur pelan-pelan.
Meme menatap mereka dengan puas tapi tetap sopan.
“Terima kasih ya, Bu Ifa,” kata Wawa sambil tersenyum lega.
Bu Ifa mengangguk. “Iya, Nak. Bu Ifa senang kalian mau tertib. Kalau semua sabar, semua kebagian jajan dengan adil.”
Dede menimpali, “Betul, Bu. Antre itu memang butuh sabar.”
“Betul sekali, Dede,” jawab Bu Ifa sambil menyiapkan roti keju. “Nah, ini pesanan kalian. Tiga roti isi keju dan tiga es teh manis.”
Meme langsung berseri-seri. “Akhirnyaaa! Perjuangan antre ini terbayar juga.”
Wawa terkekeh. “Tuh kan, sabar itu ada hasilnya.”
Mereka duduk di bangku dekat taman sambil menikmati jajanan.
“Meme, tadi kamu keren juga, berani menegur Roni dan Dimas,” kata Dede sambil mengisap es tehnya.
Meme tersenyum malu. “Iya sih, tapi aku hampir kebablasan ngomel.”
Wawa tertawa. “Yang penting kamu ingat, ngomong boleh, asal sopan.”
Meme mengangguk mantap. “Iya, mulai sekarang aku nggak akan nyelak antre, dan aku juga bakal ingetin yang nyelak.”
“Setuju!” seru Dede dan Wawa bersamaan, lalu mereka tertawa.
Pesan Moral :
Antre adalah bentuk disiplin dan rasa hormat kepada orang lain.
Dengan sabar dan sopan, kita belajar untuk adil dan menghargai sesama.
Komentar
Posting Komentar