Antara Kita
Antara Kita
Kita dulu seperti dua sungai,
mengalir berdampingan di bawah matahari yang sama,
menyentuh tepian masing-masing,
namun tak pernah menyatu sepenuhnya.
Kini,
ada jarak yang tak terlihat,
seperti kabut menelan pagi.
Aku menatapmu dari sisi sepi,
kau menatapku dari langit yang lain.
Aku ingin bicara,
namun kata-kata tersangkut di tenggorokan.
Aku ingin mendekat,
tapi langkahku tertahan oleh gengsi yang diam.
Kita sama-sama benar,
kita sama-sama salah,
dan di antaranya,
rindu menjadi bayangan yang tak berani muncul.
Malam ini aku menulis namamu
di antara bintang yang redup.
Bukan untuk memanggilmu kembali,
tapi agar kau tahu
bahwa di jarak yang memisahkan,
aku masih menyalakan cahaya untukmu.
Jika suatu hari angin mau berbaik hati,
mungkin kita akan bertemu lagi,
bukan untuk menyalahkan,
tapi sekadar tersenyum,
menghitung jarak yang pernah ada
dan merasakan hangatnya cahaya
yang tak pernah benar-benar padam.
Komentar
Posting Komentar